Setiap anak memiliki perkembangan mental yang berbeda antara satu dengan lainnya. Kedewasaan mental seorang anak juga kemungkinan memiliki proses pembentukan, waktu, dan cara yang berbeda. Orang tua sebagai pelaksana parenting (pengasuhan) harus mengetahui kapan seseorang mencapai kematangan mentalnya.

Selain kematangan fisik, orang tua juga harus memahami kapan kedewasaan mental dicapai sang anak. Pola asuh yang digunakan harus mengupayakan keselarasan antara kedewasaan fisik dan mental.

Setiap orang tua memiliki sikap dan tindakan yang berbeda pada anaknya. Berdasarkan perilaku dan sikap orang tua pada anak, tipe dan kategori pola asuh terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Pola Asuh Otoriter


Dalam pola asuh otoriter, orang tua menentukan segala jenis peraturan yang berlaku dalam keluarga. Anak harus menuruti dan mematuhi seluruh peraturan yang ditentukan oleh orang tua tanpa terkecuali. Selain itu, orang tua tidak memberi tahu alasan mengapa peraturan tersebut harus dibuat dan dipatuhi. Anak-anak tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan argumen apa pun tentang peraturan yang telah ditetapkan orang tua tersebut.

source image www.istockphoto.com

Pola asuh otoriter memiliki sistem di mana aturan orang tua harus dikerjakan dan merupakan kewajiban untuk dipatuhi anak. Biasanya, jika peraturan tersebut tidak dipatuhi anak, mereka akan mendapat hukuman fisik maupun verbal.

Dalam pola asuh otoriter, peraturan diberlakukan sangat ketat dan sangat dijunjung tinggi di dalam keluarga. Orang tua akan menerapkan tingkat disiplin yang sangat tinggi bagi anak. Dalam pola asuh otoriter ini anak akan sangat jarang diberi hadiah/pujian (misal saat patuh pada aturan).

Baca Juga: Waktu Tepat Menasehati Anak Ala Rasulullah saw.

2. Pola Asuh Permisif


Pola asuh permisif adalah sebuah pola asuh di mana orang tua memberikan kebebasan sepenuhnya pada sang anak. Dalam pola asuh ini, orang tua sama sekali tidak memberikan peraturan apa pun yang diberlakukan dalam anggota keluarga, termasuk anak. Anak tidak pernah dihukum jika melakukan atau tidak melakukan suatu hal. Namun, anak juga tidak diberikan pujian/apresiasi saat melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu (misalnya kebaikan/prestasi). Artinya, sang anak sepenuhnya bebas menentukan kemauan dan keinginannya tanpa ada aturan apa pun dari orang tua.

source image www.istockphoto.com


Orang tua dalam pola asuh ini bersikap pasif, menerima keputusan anak, dan terkesan bermurah hati dalam hal kedisiplinan. Mereka juga akan menerima apa saja yang dilakukan oleh anak, menuruti setiap permintaan anak dan tidak menegakkan otoritasnya sebagai orang tua. Dalam pola asuh ini, orang tua kurang mengontrol perilaku anak dan membiarkan anak begitu saja dengan bebas.

3. Pola Asuh Demokratis


Pola asuh demokratis merupakan sebuah pola asuh yang menjadikan orang tua sebagai penentu aturan. Orang tua berhak untuk membuat sejumlah peraturan yang diberlakukan bagi anggota keluarga, termasuk untuk dipatuhi sang anak. Dalam pola asuh demokratis, meskipun peraturan sepenuhnya dibuat oleh orang tua, anak masih berkesempatan bertanya mengenai alasan pembuatan aturan tersebut. Artinya, anak memiliki hak untuk mengetahui dan memahami mengapa orang tua memberikan aturan tersebut.

Dalam pola asuh ini, anak juga dapat ikut andil untuk mengajukan keberatan, memberikan alasan atau komentar apa pun terkait peraturan yang ada.
Kehangatan dan kasih sayang tetap diberikan pada pola asuh demokratis. Namun, di sisi lain orang tua juga mendidik dengan keras perihal aturan dan kedisplinan bagi anak. Orang tua akan menuntut kemandirian dan tanggung jawab meski masih memberikan anak kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

source image www.istockphoto.com

Indikator lain dari pola asuh demokratis adalah pemberian pujian ataupun apresiasi saat anak menunjukkan perilaku sosial yang baik, dan hukuman akibat perilaku yang salah. Orang tua membimbing dan mengarahkan anak serta memiliki pandangan terhadap masa depan anak. Saat terdapat selisih pendapat dengan anak, orang tua akan memberikan penjelasan rasional atas aturan yang dibuat bagi anak.


Pradani menyebutkan bahwa semestinya orang tua menerapkan pola asuh yang positif. Pola asuh orang tua disebut positif apabila orang tua mampu berpikir positif pada anak. Pola asuh positif akan menumbuhkan konsep diri dan pemikiran yang positif pada anak.

Sementara pola asuh bisa dikatakan negatif apabila orang tua sering kali melakukan tindakan-tindakan negatif pada anak dalam pengasuhan. Misalnya, suka memukul anak, mengabaikan, merendahkan diri anak, tidak adil, sering marah, menghina, dan lain sebagainya.

Perilaku negatif yang diberikan orang tua dalam mengasuh anak dinilai sebagai hukuman dan akibat dari kesalahan maupun kebodohan anak. Sikap dan pola asuh negatif ini yang akan menimbulkan pertanyaan bagi anak tentang keberadaan dirinya. Anak akan memiliki sejumlah asumsi negatif, misalnya dirinya memang tidak berharga untuk disayangi, dikasihi, dan dihargai. Anak akan berpikir bahwa seluruh perilaku negatif orang tua didapatkan karena kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.

Referensi:
Sutanto, Andina Vita. Dkk. Positive Parenting: Membangun Karakter Positif Anak. Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2018.

1 Comment

  1. Pingback: Simak 5 Manfaat Bermain Bagi Anak

Write A Comment