Waktu Tepat Menasehati Anak Ala Rasulullah saw. – Orang tua kerap memberikan nasihat kepada anak sebagai bagian dari proses pendidikan. Namun, apakah nasihat-nasihat tersebut langsung dipahami dan diterapkan oleh anak dalam kegiatan sehari-harinya?

Ketika mendapat nasihat, anak-anak terkadang hanya mendengarkan sekilas, tidak benar-benar memperhatikan. Ternyata, ketika memberikan nasihat haruslah memilih waktu yang tepat agar membuahkan hasil seperti yang diinginkan oleh orang tua. Pemilihan waktu yang tepat akan memudahkan orang tua dalam memberikan arahan kepada anak.

Rasulullah saw. pun sangat cermat dalam memilih dan memanfaatkan waktu dan tempat untuk mengajari anak dan meluruskan perilaku anak yang salah. Beliau memberikan contoh tiga waktu yang tepat menasehati anak, waktu-waktu tersebut  ialah sebagai berikut:

Waktu Tepat Menasehati Anak Ala Rasulullah saw.

1. Dalam Perjalanan atau dalam Kendaraan

Menurut Riwayat Al-Hakim, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Nabi saw. diberi hadiah seekor keledai. Kemudian, beliau menungganginya dengan menggunakan tali. Beliau memboncengku di belakangnya dan berjalan bersamaku. Beliau lalu menoleh kepadaku seraya mengatakan: “Wahai anakku.” Aku menjawab: “Ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Peliharalah (agama) Allah, niscaya Dia akan memeliharamu.”

Riwayat di  atas menunjukkan bahwa Rasulullah memberikan nasihat berupa akidah tauhid dan akidah iman di dalam perjalanan. Beliau mengajarkan kepada manusia untuk menaati Allah dan menjauhi kemaksiatan, dengan begitu Allah akan menyelamatkannya dari kesulitan.

Jadi, dapat dikatakan bahwa ketika perjalanan merupakan waktu yang tepat untuk memberikan nasihat atau arahan dan meluruskan kesalahan yang diperbuat oleh anak dalam kesehariannya. Nasihat tidak hanya diberikan ketika anak berada di kamar atau ruang yang terbatas, melainkan bisa dilakukan juga di ruang terbuka. Saat jiwa si anak lebih lapang dan memiliki kesiapan yang lebih kuat untuk menerima nasihat.

2. Saat Makan

Ketika dihadapkan dengan makanan, anak-anak tidak bisa menahan keinginannya untuk cepat-cepat melahap makanan yang disukainya. Sehingga mereka akan menunjukkan watak aslinya yang terkadang tidak lagi memperhatikan tata krama dan berperilaku buruk.

Menasehati Anak Saat Makan

Pada saat makan inilah kesempatan orang tua untuk menasihati mereka. Duduklah bersama anak-anak dan temani mereka ketika makan, berikanlah arahan tentang bagaimana tata cara makan dan beritahu kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan. 

Rasulullah saw. memberikan contoh cara makan kepada anak-anak dan meluruskan kesalahan mereka dengan cara yang simpatik.

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Umar bin Abi Salamah ia mengatakan: “Dulu aku adalah anak kecil yang biasa berada di kamar Rasulullah saw. Ketika tanganku mau menyuapkan makanan, beliau bersabda: “Nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah sesuatu yang dekat denganmu.”

Dalam riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban, Rasulullah saw. bersabda: “Mendekatlah hai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah sesuatu yang dekat denganmu.”

Baca Juga: Meneladani Kejujuran Rasulullah SAW

3. Waktu Sakit

Ketika sakit, anak-anak akan menunjukkan dua sifat besar yaitu, fitrah masa anak-anak dan sifat kelembutan hati dan jiwa. Kedua sifat tersebut bisa menjadi bekal untuk meluruskan kesalahan-kesalahan mereka, baik itu kesalahan dalam berperilaku maupun keyakinan.  

Suatu ketika Rasulullah saw. menjenguk anak Yahudi yang sakit lalu mengajaknya masuk Islam dan anak tersebut lantas memeluk Islam. Ternyata, kunjungan Rasulullah saw. pada saat itu menjadi pembuka hidayah bagi anak tersebut.

Bukhari meriwayatkan dari Anas berkata: “Seorang anak Yahudi, yang biasa melayani Rasulullah saw. jatuh sakit. Rasulullah saw. pun mendatanginya untuk menengoknya. Rasulullah saw. duduk dekat kepalanya seraya mengatakan: “Masuk Islamlah.” Anak itu lantas memandang ayahnya yang ada di sisinya. Ayahnya mengatakan: “Ikutilah Abal-Qasim (Nabi Muhammad saw.)” Anak itu pun masuk Islam dan Rasulullah saw. keluar sambil mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.”

Dalam kasus di atas, terlihat bahwa Rasulullah saw. tidak menyeru anak yang biasa melayaninya untuk masuk Islam kecuali di waktu yang tepat, yaitu ketika anak tersebut sakit.

Oleh karena itu, kita pun perlu meneladani beliau untuk memilih waktu yang tepat ketika hendak memberikan nasihat atau memberikan pengarahan kepada anak-anak.

Referensi:

Dimas, Muhammad Rasyid. 2008. 25 Kiat Memengaruhi Jiwa dan Akal Anak. Terj. Tate Qomaruddin. Bandung: Arkan Publishing.

Author

Write A Comment