Nabi Muhammad saw. terlahir dari seorang ayah yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib. Sewaktu Abdullah masih kanak-kanak, ia pernah hampir disembelih oleh ayahnya, Abdul Muthalib yang pernah bernazar ketika Abdullah belum lahir, jika ia memiliki sepuluh orang anak laki-laki, maka salah satu di antara mereka akan dijadikan kurban di muka berhala yang ada di sisi Ka’bah.
Ketika itu istri Abdul Muthalib melahirkan seorang anak laki-laki, sehingga menjadi genap sepuluh orang anak laki-laki. Anak tersebut kemudian diberi nama Abdullah yang artinya ‘hamba Allah’.
Beberapa tahun setelah Abdullah lahir, Abdul Muthalib mendapatkan tanda untuk menyempurnakan nazarnya yaitu menyembelih salah seorang putranya. Kemudian, Abdul Muthalib mengumpulkan semua anak laki-lakinya dan memberitahukan tentang Nazar tersebut, lalu diadakanlah undian.
Abdul Muthalib memberikan penjelasan kepada penjaga dadu tentang nazarnya, ia berkata: “Undilah anak-anakku sesuai dengan dadu yang tertera nama mereka di dalamnya.”
Ketika penjaga dadu hendak melakukan undian, Abdul Muthalib berdiri di sisi berhala yang ada di sisi Ka’bah untuk berdoa kepada Allah. Setelah undian dilakukan, keluarlah nama Abdullah. Padahal Abdullah adalah anak yang paling muda, yang paling bagus rupa wajahnya, dan yang paling dicintai oleh Abdul Muthalib. Abdullah menurut saja apa yang menjadi kehendak ayahnya. Lalu, Abdul Muthalib mengambil pisau panjang dan membawa Abdullah ke patung Isaf dan Nailah untuk di sembelih.
Baca Juga: Kisah Ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Kabar dikorbankannya Abdullah menyebar hingga terdengar di seluruh kota Mekah. Orang-orang Quraisy datang menghadap Abdul Muthalib untuk mencegahnya melakukan hal tersebut, terutama paman-pamannya dari pihak ibu yaitu Bani Makhzum dan saudaranya, Abu Thalib.
Mereka mengusulkan untuk menemui seorang dukun perempuan. Maka dia pun menemui dukun itu. Sesampainya di sana, dia diperintahkan untuk mengundi Abdullah dengan sepuluh ekor unta. Jika yang keluar nama Abdullah, maka dia harus menambahi lagi dengan sepuluh ekor unta, hingga Tuhan ridha. Jika yang keluar nama unta, maka unta-unta itulah yang disembelih.
Kemudian ia pulang dan mengundi nama Abdullah dengan sepuluh ekor unta, tetapi yang keluar nama Abdullah. Kemudian, ditambah lagi dengan sepuluh ekor unta, namun setiap undian berikutnya yang keluar adalah nama Abdullah. Hingga jumlahnya mencapai seratus ekor unta, baru setelah itu undian yang keluar adalah nama unta.
Ada yang menyebutkan bahwa Abdul Muthalib berkata: “Tidak! demi Allah, hingga aku mengocok kotak dadu ini hingga tiga kali.”
Kemudian mereka mengocok kotak dadu kembali hingga tiga kali dan ketiga-tiganya keluar dadu atas nama unta. Maka unta-unta itu pun disembelih sebagai pengganti Abdullah.
Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang menghalangi Abdul Muthalib ialah kepala agama, penjaga Ka’bah. Kepala agama itu memperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan tersebut. Jika sampai dilaksanakan, sudah tentu nantinya akan dicontoh oleh orang banyak karena Abdul Muthallib adalah seorang wali negeri pada masa itu dan dia memiliki pengaruh besar di Mekah. Kepala agama mengatakan bahwa nazar Abdul Muthalib cukup ditebus dengan menyembelih 100 ekor unta.
Terkait peristiwa tersebut Nabi saw. pernah bersabda, “Aku anak laki-laki dari dua orang yang disembelih.” Maksudnya, Nabi Muhammad itu dari keturunan Nabi Ismail dan dari Abdullah, yang kedua-duanya pernah hendak disembelih oleh ayahnya masing-masing, tetapi tidak jadi disembelih.
Referensi
Chalil, Moenawar. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw. Jilid I. Cet. 1. Jakarta: Gema Insani Press, 2011.
Ishaq, Ibnu. Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah SAW. Penerjemahan: Samson Rahman. Jakarta: Akbar Media, 2018.
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh. Sirah Nabawiyah. Penerjemah: Katur Suhardi. Cet. 1. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997.



2 Comments
saya baru tahu perihal ini, dan saya tersadar bahwa saya masih miskin ilmu tentang agama saya sendiri. terimakasih ilmunya mas. berkah selalu
terimakasih atas artikel yang kamu bagikan ini, saya baru tahu ada kisah seperti ini dalam sejarah islam. kalau boleh tau dimanakah kamu sering membaca sejarah islam seperti ini?