Mengenal Ibu susu Rasulullah saw.- Sudah menjadi tradisi di kalangan bangsawan Arab, bahwasanya ketika seorang bayi baru lahir baik itu bayi perempuan ataupun laki-laki selang beberapa hari setelah kelahirannya maka mereka akan disusukan kepada orang lain yang bertempat tinggal di perkampungan.
Bangsa Arab meyakini bahwa lingkungan perkampungan lebih sehat dan masih terlindungi dari berbagai macam penyakit, udaranya lebih segar, airnya bersih, dan bahasanya masih asli, sehingga mereka ingin anak-anaknya tumbuh di lingkungan yang baik dan sehat.Begitu pula baginda kita Nabi Muhammmad saw., setelah tiga hari menyusu kepada ibunya yaitu Aminah, beliau disusukan kepada orang lain.
Wanita pertama yang menjadi ibu susu Rasulullah saw. setelah ibundanya ialah Tsuwaibah, kebetulan kala itu sedang menyusui anaknya yang bernama Masruh. Sebelum itu Tsuwaibah juga menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib, setelahnya menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi.
Tsuwaibah merupakan budak dari Abu Lahab yang dimerdekakan setelah mendengar kabar bahwa anak dari saudara laki-lakinya yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib yang telah meninggal sudah lahir dengan selamat.
Nabi Muhammad saw. disusukan oleh Tsuwaibah hanya dalam beberapa hari, kemudian beliau disusukan dan diasuh oleh Halimah binti Abu Dzuaib, seorang perempuan dari dusun Banu Sa’ad, istri Abu Kabsyah.
Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah saw. disusui wanita dari Sa’ad bin Bakr yang bernama Halimah binti Abu Dzuaib. Abu Dzuaib adalah Abdullah bin Al-Harts bin Syijnah bin Jabir bin Rizam bin Nashirah bin Fushaiyyah bin Nashr bin Sa’ad bin Bakr bin Hawazin bin Mansur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan. Nama ayah susuan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Al-Harts bin Abdul Uzza bin Rifa’ah bin Mallan bin Nashirah bin Fushaiyyah bin Nashr bin Sa’ad bin Bakr bin Hawazin.”

Saat itu, Halimah bin Abu Dzuaib dengan membawa anak-anak yang sedang disusuinya beserta suami dan rombongan wanita-wanita Bani Sa’ad bin Bakr pergi meninggalkan negerinya guna mencari anak-anak untuk disusui.
Tahun tersebut merupakan tahun kekeringan, keledai dan unta tua yang dibawa oleh Halimah bin Abu Dzuaib tidak mengeluarkan susu barang setetes pun.
Rombongan tersebut menempuh perjalanan yang cukup lama, sehingga anak-anak yang mereka bawa menangis karena kelaparan, air susu tidak mengenyangkannya dan unta tua yang dibawa pun tidak mengeluarkan susu untuk diminum.
Setibanya di kota Mekkah, semua wanita-wanita Bani Sa’ad bin Bakr pernah ditawari untuk menyusui Rasulullah saw., tetapi mereka semua menolak dengan alasan bahwa anak tersebut adalah anak yatim. Mereka mengharapkan imbalan yang besar dari ayah si anak yang mereka susui, sedangkan Muhammad sudah tidak memiliki ayah dan mereka pun meragukan imbalan yang akan diberikan oleh ibu dan kakek anak tersebut.
Hanya Halimah bin Abu Dzuaib saja yang ketika itu belum mendapat anak untuk disusui, ia berkata pada suaminya, “’Demi Allah, aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa anak yang bisa aku susui. Demi Allah, aku akan pergi kepada anak yatim tersebut dan mengambilnya.”
Baca Juga: Nasab Nabi Muhammad saw.
Kemudian Halimah bin Abu Dzuaib pergi mengambil anak yatim tersebut. Setelah itu ia kembali ke tempat peristirahatannya. Kemudian, memberikan anak tersebut hingga ia kenyang. Saudaranya juga menyusu hingga kenyang. Sesudah menyusu, keduanya tidur, padahal sebelumnya mereka tidak bisa tidur.
Sedangkan suami Halimah bin Abu Dzaib pergi memeriksa unta tua milik mereka, ternyata air susu unta tua tersebut penuh. Mereka pun memerahnya, meminumnya, dan aku meminumnya hingga kenyang.
Begitulah akhirnya Halimah bin Abu Dzaib , wanita yang menjadi ibu susu Rasulullah saw. Ia terus mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari Allah ketika menyusui Muhammad. Sampai ketika Muhammad berusia dua tahun, ia disapih. Muhammad tumbuh menjadi anak muda yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Usianya belum genap dua tahun, namun ia telah menjadi anak yang tegap.
Referensi
Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid I. Penerjemah: Fadhli Bahri. Cet. 1. Jakarta: Penerbit Darul Falah, 2000.
Chalil, Moenawar. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw. Jilid I. Cet. 1. Jakarta: Gema Insani Press, 2011.
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh. Sirah Nabawiyah. Penerjemah: Katur Suhardi. Cet. 1. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997.